Artefak Review: Wayang Kulit

Wayang Kulit

Wayang kulit adalah seni pertunjukan boneka yang diproyeksikan di depan layar yang dilihat dari belakang (shadow puppet performance). Wayang kulit terbuat dari kulit binatang, biasanya kulit kerbau, berbentuk pipih, diwarna dan bertangkat. Seni pertunjukan dongeng ini berasal dari Pulau Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh dhalang dan diiringi musik gamelan yang dimainkan oleh sekelompok nayaga serta tembang yang dinyanyikan para pesinden. Dalam pertunjukan wayang kulit, kisah yang biasanya diceritakan adalah Ramayana dan Mahabharata dalam versi Jawa.

sumber : dokumentasi pribadi

Catatan tertua tentang wayang tertulis dalam Prasasti Kuti bertarikh 762 Saka (840 M) dari Joho, Sidoarjo, Jawa Timur yang menyebut kata haringgit yang berarti dhalang. Haringgit adalah bentuk halus dari kata ringgit yang dalam bahasa Jawa berarti wayang. Wayang kulit sebagai suatu seni pertunjukan berkembang sejak sekitar abad ke-15. Masuknya ajaran Islam di Nusantara dan peran raja-raja di Jawa di masa itu membuat wayang kulit berkembang pesat dan bertransformasi, tidak hanya sebagai seni pertunjukan tetapi juga sebagai sarana dakwah, diplomasi politik, pengajaran moral, filsafat, dan kebatinan.

Pertunjukan tradisional wayang kulit biasanya berlangsung sekitar 8 jam, mulai dari jam 8 malam sampai dengan subuh. Selama waktu itu, pertunjukan wayang kulit dibagi menjadi tiga segmen, yaitu Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura. Bagi masyarakat Jawa, tiga segmen dalam pertunjukan wayang kulit tersebut adalah analogi perjalanan hidup manusia, masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua. Masing-masing segmen selama 8 jam pertunjukan menggambarkan perkembangan emosi, pikiran, tindakan, dan kebijaksanaan manusia Jawa selama hidupnya.

Wayang Kulit

sumber : My Jogja

Tokoh-tokoh dalam wayang kulit dapat dibedakan dalam dua kelompok karakter, yaitu karakter baik dan karakter jahat. Masing-masing kelompok karakter tersebut juga masih memiliki karakter khasnya. Umumnya tokoh-tokoh dalam wayang kulit ini ada dalam kisah Ramayana dan Mahabharata, dan berasal dari golongan dewa, raja, kesatria, atau pendeta. Selain itu, terdapat juga tokoh-tokoh lain yang dikenal dalam wayang kulit tradisional Jawa, yaitu tokoh punakawan. Tokoh-tokoh dalam pertunjukan wayang kulit ada untuk dijadikan sebagai teladan dan pelajaran manusia bertingkah laku dalam hidupnya.

Wayang Kulit Indonesia tercatat di Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan (The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) Unesco dan diakui sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 7 November 2003.

Sumber:

Hariyadi, M. N., Afatara, N., & Purwantoro, A. (2018). Perkembangan Pertunjukan Wayang Beber Kontemporer Di Era Modernisasi. Jurnal Bahasa Rupa, 1(2), 99–107. https://doi.org/10.31598/bahasarupa.v1i2.208

Indonesia Kaya. (2022). Wayang Kulit: Dari Indonesia Untuk Dunia. Indonesiakaya.Com. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/wayang-kulit-kekayaan-seni-nusantara-yang-bernilai-adiluhung/

Jatinurcahyo, R. (2021). Menelusuri Nilai Budaya Yang Terkandung Dalam Pertunjukan Tradisional Wayang. 12(September), 159–165. https://doi.org/10.31294/khi.v12i2.11440

Marsaid. (2016). ISLAM DAN KEBUDAYAAN : WAYANG SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN ISLAM. Kontemplasi, 4(1).

Mulyono, S. (1975). Wayang : Asal-usul, Filsafat dan Masa Depannya (Vol. 1). CV Haji Masagung.

Octoria, D. (2022). Wayang Kulit : Sejarah, Fungsi dan Tokoh-tokohnya. Mengenalindonesia.Com. https://mengenalindonesia.com/sejarah-fungsi-dan-tokoh-wayang-kulit/

Salleh, E. (2018). Wayang Kulit. Infopedia. https://eresources.nlb.gov.sg/infopedia/articles/SIP_193_2004-12-23.html?s=Arts%3E%3ETheatre

UNESCO. (2008). Wayang puppet theatre. Ich.Unesco.Org. https://ich.unesco.org/en/RL/wayang-puppet-theatre-00063

Weiss, S. (2006). Listening to An Earlier Java: Aesthetics, gender, and the music of wayang in Central Java. KITLV Press.