Museum Etnografi Mengundang Pakar Batik untuk Menyambut HUT ke 17

Museo-News | 29 September 2022¬†Museum Etnografi merayakan hari jadi yang ke 17 yang bertajuk “Damai Abadi” dengan mengundang pakar batik untuk memberikan kuliah umum mengenai “Filosofi Batik untuk Kematian”. Dr. Ir. Lintu Tulistyantoro, M.Ds. dosen Fakultas Humaniora & Industri Kreatif, Universitas Kristen Petra sekaligus Ketua Yayasan KIBAS Batik Jawa Timur diundang sebagai pembicara kuliah umum. Kegiatan ini dimulai pukul 15.00 WIB dibuka oleh Irfan Wahyudi S.Sos., M.Comms., PhD. (Wadek III FISIP Unair) dan dimoderatori oleh Dr. phil. Toetik Koesbardiati, Dra. (Kepala Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian). Sebanyak 80 orang dari Unair, Unesa, PBBN, Kibas, dan Studio Tedja turut meramaikan acara ini.

Pembahasan mengenai Filosofi Batik untuk Kematian dibuka dengan topik motif batik tertentu yang diidentikkan dengan kematian. Salah satunya Slobok, motif bentuk segitiga sama sisi dengan komposisi berbeda yang dikenakan saat melayat dan sebagai lurub (penutup jenazah). Penggunaan slobok tidak hanya digunakan ketika acara kedukaan, tetapi juga digunakan oleh tokoh pewayangan Punokawan dan abdi dalem keraton dalam ritual tertentu. Masyarakat Jawa meyakini harmoni dualisme seperti laki- laki – perempuan, langit – bumi, profan-sakral, atas-bawah, dsb. Prinsip tersebut tercerminkan dari motif slobok yang menampilkan makna keseimbangan dalam makrokosmos dan mi. Harmoni dari dualisme tersebut menghasilkan kemakmuran dan kesuburan. Berdasarkan penjelasan tersebut Dr. Ir. Lintu Tulistyantoro, M.Ds. menegaskan bahwa sejatinya slobok bukanlah motif yang identik dengan kedukaan, melainkan keseimbangan dengan harapan arwah dapat berangkat dengan mudah dan diikhlaskan. Kuliah umum ditutup dengan penjelasan singkat mengenai filosofi motif batik lainnya dengan menampilkan batik di depan peserta kuliah umum. (FF)